Masa Awal: Migrasi di Era Penjajahan
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, terjadi perpindahan penduduk besar-besaran di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu kelompok migran berasal dari Sulawesi Selatan (Makassar) yang menetap di sebuah wilayah pesisir yang kemudian dinamakan Polewali. Dalam bahasa Bugis, Polewali berarti "datang dari penjuru". Masyarakat awal Polewali yang multietnis ini dipimpin oleh seorang Kapten bernama Bapak Kurase, dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan.
Perpindahan ke Pari
Sebagai masyarakat nelayan yang semi-nomaden, mereka terus berpindah mencari lokasi penangkapan ikan yang lebih produktif. Suatu ketika, mereka menemukan daerah baru yang kaya akan ikan pari, sehingga dinamakan Pari. Wilayah ini kemudian didominasi oleh Suku Bajo. Seiring waktu, terbentuklah struktur kepemimpinan baru dengan gelar Ponggawa (yang dituakan), dengan pemimpin pertama bernama Bapak Mohammad Imbar.
Interaksi dengan Suku Taa
Di daerah pegunungan sekitar Pari, bermukim Suku Taa yang berasal dari Sulawesi Tenggara (Suku Tolaki). Antara Suku Taa (petani) dan Suku Bajo (nelayan) terjalin hubungan erat melalui sistem barter. Hasil pertanian seperti ubi kayu, jagung, beras, dan sayur-mayur ditukar dengan hasil laut. Aktivitas ini melahirkan pasar tradisional yang menjadi cikal bakal interaksi sosial lebih luas.
Pembentukan Desa Rata
Pertambahan penduduk mendorong perluasan permukiman ke lokasi baru yang datar dan strategis. Tempat ini kemudian dinamakan Rata, berasal dari bahasa Taa "Simparata" yang berarti pertemuan. Nama ini mencerminkan karakteristik geografis sekaligus filosofi kehidupan masyarakatnya yang multietnis (Bugis, Bajo, Taa, dan Kendari).
Perkembangan Sistem Pemerintahan
Pada saat itulah nama Kapten dan Ponggawa sebagai pemimpin kelompok diganti dengan nama Kepala Desa. Kepala Desa pertama adalah Bapak Podawu yang berasal dari suku Tolaki/Kendari.
Masa pemerintahannya berakhir sampai beliau wafat, kemudian digantikan oleh Bapak B. Yunus yang memerintah kurang lebih 20 tahun. Saat itu belum ada batasan waktu bagi kepala desa untuk memimpin desanya.
Selanjutnya, Bapak B. Yunus digantikan oleh menantunya sendiri, yaitu Bapak Andi Patturusi, yang memerintah kurang lebih 3 tahun. Beliau sangat disanjung dan dihormati oleh masyarakat.
Berakhirnya masa pemerintahan Bapak Andi Patturusi karena beliau pulang ke daerah asalnya di Tanah Bugis/Sulawesi Selatan.
Kemudian dilaksanakan pemilihan Kepala Desa, dan terpilihlah Bapak Andi Tuppu yang memerintah kurang lebih 2 tahun. Beliau diberhentikan oleh Camat Batui atas kehendak masyarakat, yang pada saat itu di Desa Rata masih berada di bawah wilayah Kecamatan Batui, selanjutnya ditunjuk pejabat sementara yaitu Bapak AR. Noor.
Pada tahun 1985, dilaksanakan pemilihan Kepala Desa dan Bapak M. Sarihi terpilih sebagai Kepala Desa Rata. Beliau memimpin selama 13 tahun, mulai tahun 1985 sampai dengan 1998, Beliau berhenti dari jabatannya karena suatu hal sehingga tidak dapat melanjutkan tugasnya sampai masa jabatan berakhir, Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan, diangkatlah pejabat sementara yaitu Bapak Joni Saada.
Pada tahun 2000, diadakan pemilihan Kepala Desa dan terpilihlah Bapak Udin Mustafa dengan masa jabatan selama 5 tahun. Pada tahun 2005, dilaksanakan kembali pemilihan Kepala Desa Rata untuk periode 2005 sampai 2010, dan Bapak Udin Mustafa terpilih untuk kedua kalinya.
Pada tahun 2010, kepemimpinan Bapak Udin Mustafa berakhir, kemudian diadakan pemilihan Kepala Desa untuk periode 2010-2016. Yang terpilih sebagai Kepala Desa adalah Bapak Andi Taufik. Pada tahun 2016, dilaksanakan kembali pemilihan Kepala Desa Rata untuk periode 2016-2022, dan Bapak Andi Taufik terpilih kembali. Jabatannya berakhir pada tahun 2022, lalu diadakan pemilihan Kepala Desa untuk periode 2022-2028. Yang terpilih sebagai Kepala Desa Rata adalah Bapak H. Ahmad Ambo Tang.
Kirim Komentar